Pelitadigital.com – Kelompok lingkungan hidup telah mengajukan keluhan resmi terhadap Bank Dunia, menuduh lembaga tersebut melanggar janji untuk menghentikan dukungan keuangan pada bahan bakar fosil, khususnya pembangkit listrik tenaga batu bara di Indonesia.

dilansir dari Tempo.co International Financial Corporation (IFC), anak perusahaan Bank Dunia di sektor swasta, dituduh mendukung secara tidak langsung pembangkit listrik tenaga batu bara Suralaya melalui investasi ekuitas di Hana Bank Indonesia, salah satu pemodal utama proyek tersebut.

Pembangkit listrik Suralaya, yang merupakan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, sedang dalam rencana pembangunan dua unit tambahan yang diperkirakan akan melepaskan sekitar 250 juta metrik ton karbon dioksida. Hal ini menurut kelompok lingkungan hidup akan memperburuk pemanasan global.

Selain dampak lingkungan, proyek tersebut juga mendapat kritik karena telah menyebabkan “kerusakan terhadap masyarakat lokal”, termasuk klaim penggusuran paksa terhadap penduduk setempat.

Sementara itu, Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA) yang berbasis di Helsinki menyatakan bahwa kompleks pembangkit listrik Suralaya berdampak negatif terhadap kualitas udara di wilayah tersebut. Hal ini mengakibatkan biaya kesehatan yang mencapai lebih dari $1 miliar setiap tahunnya. Lebih jauh, CREA menyebut pembangkit tersebut turut berkontribusi pada kabut asap berbahaya di Jakarta.

PT Indo Raya Tenaga, pengembang proyek, menunjukkan niatnya untuk mengurangi dampak emisi dengan memasok sebagian kapasitas barunya dengan amonia, bersama dengan batu bara.

Baca Juga :   Presiden Brasil Berubah Pikiran Mengenai Putin! Apa yang Terjadi di Pertemuan Rahasia G20?

Data dari Global Energy Monitor menunjukkan bahwa Indonesia termasuk salah satu dari 11 negara yang mengoperasikan PLTU Batu Bara baru. Dengan peningkatan kapasitas sebesar 60% sejak 2015, Indonesia berada di urutan ketiga dunia setelah Cina dan India dalam pembangunan PLTU Batu Bara.

November lalu, Indonesia menandatangani Kemitraan Transisi Energi yang Adil dengan komitmen dana sebesar $20 miliar untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Namun, pengumuman detil investasi masih tertunda. Kemitraan tersebut mewajibkan Indonesia untuk memberlakukan moratorium terhadap pembangkit listrik tenaga batu bara baru dengan beberapa pengecualian.

Sampai saat ini, Bank Dunia dan Hana Bank Indonesia belum memberikan tanggapan atas klaim tersebut.

Sumber : Tempo.co

 

 

Share:

Muhammad Amin Khizbullah

Penulis SEO profesional dengan semangat untuk mendedikasikan hidup dalam menjelajahi keajaiban algoritma mesin pencari. Dengan kopi hitam sebagai sumber inspirasi, saya akan menggubah kata-kata menjadi senjata andalan untuk menyampaikan informasi menarik dan bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *