Daftar 16 Merek Mobil China di Indonesia dan Peta Persaingan Pasarnya
Pelitadigital.com – Industri otomotif nasional tengah mengalami pergeseran menarik. Jika sebelumnya pasar mobil Indonesia identik dengan merek Jepang, kini kehadiran produsen asal China mulai mengubah lanskap persaingan. Dalam beberapa tahun terakhir, mobil China tidak hanya bertambah dari sisi jumlah merek, tetapi juga semakin berani bersaing dari segmen harga, teknologi, hingga elektrifikasi.
Saat ini, setidaknya terdapat 16 merek mobil China yang telah resmi memasarkan produknya di Indonesia. Jumlah tersebut bahkan melampaui merek Jepang yang tercatat sekitar 12 brand. Fenomena ini menandai babak baru dalam dinamika pasar otomotif Tanah Air.
Daftar Lengkap Merek Mobil China di Indonesia
Berikut jajaran merek mobil asal China yang sudah hadir dan aktif di pasar Indonesia:
- BYD
- Chery
- Wuling
- Denza
- AION
- Geely
- Jaecoo
- GWM (Great Wall Motors)
- FAW
- DFSK
- Jetour
- BAIC
- Xpeng
- Neta
- Maxus
- Seres
Masuknya berbagai merek tersebut memperkaya pilihan konsumen, mulai dari kendaraan konvensional, hybrid, hingga mobil listrik murni. Tidak sedikit pabrikan China yang langsung menargetkan segmen elektrifikasi sebagai pintu masuk utama ke pasar Indonesia.
Strategi Mobil China: Banyak Merek, Beragam Segmen
Berbeda dengan pendekatan merek Jepang yang cenderung kuat di semua segmen sejak lama, produsen China justru datang dengan strategi lebih spesifik. Ada yang fokus pada mobil listrik, ada pula yang menyasar SUV menengah hingga premium dengan fitur teknologi tinggi.
Kondisi ini membuat konsumen Indonesia memiliki alternatif baru, terutama bagi mereka yang mengutamakan fitur modern, desain futuristik, dan harga yang relatif kompetitif. Dari sisi inovasi, merek China dikenal agresif membawa teknologi terbaru, termasuk sistem bantuan pengemudi dan konektivitas digital.
Dominasi Jepang Masih Terjaga dari Sisi Penjualan
Meski jumlah merek China semakin banyak, realitas penjualan menunjukkan cerita berbeda. Hingga periode Januari–November 2025, merek Jepang masih menjadi tulang punggung penjualan mobil nasional. Dari sepuluh merek terlaris di Indonesia, mayoritas masih diisi oleh produsen asal Jepang.
Toyota tetap berada di posisi teratas dengan penjualan lebih dari 233 ribu unit dan pangsa pasar di atas 30 persen. Posisi berikutnya ditempati Daihatsu, Honda, Mitsubishi Motors, dan Suzuki. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen terhadap merek Jepang masih sangat kuat, terutama di segmen kendaraan keluarga dan niaga ringan.
BYD Jadi Wakil China Paling Menonjol
Di tengah dominasi Jepang, BYD muncul sebagai anomali menarik. Merek asal China ini berhasil menembus jajaran sepuluh besar merek terlaris di Indonesia dengan penjualan mendekati 40 ribu unit sepanjang 2025. Capaian tersebut terbilang signifikan, mengingat BYD relatif baru dibandingkan pemain lama.
Menariknya, BYD juga menjadi satu-satunya merek China yang bersaing langsung dengan produsen bermesin konvensional, meski fokus utamanya ada pada kendaraan listrik. Hal ini memperlihatkan bahwa pasar Indonesia mulai terbuka terhadap teknologi baru, meski adopsinya masih bertahap.
Merek China Lain Masih Bertumbuh
Selain BYD, beberapa merek China lain seperti Chery dan Wuling juga mencatatkan penjualan cukup stabil. Chery berada di luar sepuluh besar dengan angka belasan ribu unit, disusul Wuling yang dikenal kuat di segmen mobil listrik terjangkau.
Sementara itu, merek China lainnya masih berada pada fase pengenalan pasar. Penjualannya belum terlalu besar, namun kehadiran mereka memberi sinyal bahwa persaingan ke depan akan semakin ketat, terutama jika tren elektrifikasi terus berkembang.
Arah Pasar ke Depan
Masuknya banyak merek mobil China menunjukkan bahwa Indonesia dipandang sebagai pasar strategis di kawasan Asia Tenggara. Meski saat ini penjualan masih didominasi Jepang, perlahan peta persaingan mulai berubah.
Jika produsen China mampu menjaga kualitas, layanan purna jual, serta membangun kepercayaan konsumen, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan posisi mereka akan semakin diperhitungkan. Bagi konsumen, kondisi ini tentu menjadi kabar baik karena pilihan semakin luas dan kompetisi mendorong inovasi.













