Dilema MSG untuk MPASI: Kapan Boleh? Jangan Panik Soal Micin Bikin Bodoh
Pelitadigital.com – Tantangan terbesar orang tua saat membuat Makanan Pendamping ASI (MPASI) adalah memastikan si Kecil mendapatkan nutrisi yang cukup sekaligus memiliki nafsu makan yang baik.
Seringkali, perdebatan muncul mengenai penggunaan MSG, terutama karena mitos lama yang mengatakan bahwa micin bikin bodoh. Namun, benarkah demikian? Dan apakah penambahan MSG pada MPASI aman dilakukan?
Membongkar Mitos: Apakah Benar Micin Bikin Bodoh?
Kekhawatiran utama orang tua saat akan menambahkan MSG ke MPASI seringkali berakar pada mitos yang sangat populer yaitu micin bikin bodoh. Berdasarkan tinjauan ilmiah dan pendapat dari para dokter spesialis anak, kekhawatiran ini tidak terbukti kebenarannya.
Tidak ada literatur atau penelitian ilmiah valid yang menunjukkan bahwa MSG menyebabkan gangguan kecerdasan atau membahayakan perkembangan otak bayi.
Faktanya, komponen utama MSG, yaitu glutamat, sudah dikenal oleh tubuh bayi sejak dalam kandungan.
Bahkan, bayi mendapatkan glutamat secara alami dari Air Susu Ibu (ASI). Dokter spesialis anak menegaskan bahwa tubuh bayi mampu memetabolisme glutamat seefisien orang dewasa.
Dengan demikian, jika Anda masih bertanya-tanya, “kenapa micin bikin bodoh?” Jawabannya adalah karena ini hanyalah mitos tanpa dasar ilmiah.
MSG dalam MPASI: Aman Asal Secukupnya
Secara ilmiah, MSG dinyatakan aman untuk dikonsumsi di semua tahap usia, termasuk bayi, selama dalam batas yang wajar. Komite Komunitas Eropa dan tinjauan ilmiah dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga mendukung pandangan ini.
Namun, meskipun aman, para ahli nutrisi dan dokter anak menganjurkan orang tua untuk mengutamakan pengenalan rasa alami dari bahan makanan terlebih dahulu. Ginjal bayi di bawah satu tahun masih dalam tahap perkembangan.
Oleh karena itu, penambahan zat aditif, termasuk garam dan MSG, sebaiknya ditunda hingga bayi berusia di atas 12 bulan atau digunakan dalam jumlah yang sangat kecil dan hanya jika sangat diperlukan.
Penggunaan MSG pada MPASI boleh dilakukan dalam jumlah yang sangat kecil, terutama jika dibutuhkan untuk mengatasi masalah selera makan pada bayi yang sangat susah makan.
MSG memiliki sifat self-limited, jika terlalu banyak, rasanya justru tidak enak. Selain itu, kandungan natrium dalam MSG hanya sepertiga dari garam dapur biasa, sehingga secara tidak langsung dapat membantu strategi diet rendah garam.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai keamanan MSG dari perspektif ilmiah dan mitos yang beredar, Anda bisa membaca artikel kami yang membahas tuntas, “Bahaya MSG? (Fakta Ilmiah vs Mitos).”
Alternatif Gurih Alami: Tidak Harus MSG
Rasa gurih pada MPASI sangat penting untuk merangsang selera makan dan mencegah bayi menjadi picky eater. Menu MPASI yang terlalu hambar dapat berisiko membuat anak kurang nafsu makan dan berpotensi kurang gizi.
Meskipun MSG aman, ada beberapa alternatif penambahan rasa gurih dalam MPASI yang bisa dicoba, yaitu:
- Kaldu Alami: Gunakan air rebusan daging, tulang ayam, ikan, jamur, atau sayuran yang dimasak hingga pekat. Kaldu alami ini memberikan rasa gurih yang kaya tanpa tambahan MSG sintetis.
- Rempah dan Bumbu: Manfaatkan rempah alami seperti bawang merah, bawang putih, daun salam, dan seledri untuk memperkaya aroma dan rasa MPASI.
Mengutamakan rasa alami dari bahan makanan membantu lidah bayi terbiasa dengan aneka rasa tanpa risiko gangguan kesehatan dari zat aditif.
Strategi Bijak untuk MPASI
Prinsipnya, MSG dalam jumlah sangat kecil pada MPASI dinyatakan aman tetapi digunakan secara bertahap.
- Prioritaskan Alami: Selalu utamakan kaldu dan rempah alami sebagai sumber rasa gurih.
- Gunakan Secukupnya: Jika terpaksa menggunakan MSG (misalnya pada kasus anak sangat susah makan), gunakan sangat sedikit (sangat amat kecil) dan hanya sesekali.
- Amati Respons Anak: Pantau respons anak setelah mengonsumsi makanan yang mengandung MSG untuk melihat adanya sensitivitas.
Pada akhirnya, kunci MPASI yang sukses adalah nutrisi optimal, pengenalan variasi rasa alami, dan kehati-hatian orang tua. Jangan biarkan mitos micin bikin bodoh menghantui keputusan Anda; gunakan informasi ilmiah sebagai panduan.
Meskipun aman dalam batas wajar, rekomendasi kuat tetap mengutamakan rasa alami. Jadi, alih-alih mengkhawatirkan apakah micin bikin bodoh, fokuslah pada nutrisi seimbang dan rasa gurih alami untuk tumbuh kembang optimal si Kecil.













