DJI Osmo Action 6 Resmi Meluncur, Hadir dengan Sensor Baru dan Fitur Profesional
Pelitadigital.com – DJI kembali memperluas lini kamera aksi mereka melalui peluncuran global Osmo Action 6. Model terbaru ini membawa pembaruan signifikan pada sisi hardware dan fitur perekaman, yang ditujukan untuk kreator konten harian hingga pengguna profesional yang membutuhkan fleksibilitas tinggi dalam berbagai kondisi pemotretan.
Peluncuran ini menjadi perhatian bukan hanya karena peningkatan teknisnya, tetapi juga karena terjadi di tengah tekanan regulasi yang semakin kuat terhadap DJI di Amerika Serikat.
Sensor Lebih Besar untuk Fleksibilitas Perekaman
Osmo Action 6 hadir dengan sensor 1/1.1 inci berbentuk persegi, sebuah pendekatan yang kini mulai diadopsi beberapa produsen perangkat lain. Penggunaan sensor persegi memungkinkan pengguna menentukan rasio video setelah proses perekaman selesai, sehingga cocok untuk kebutuhan berbagai platform seperti YouTube, TikTok, maupun Instagram.
Format ini menggantikan sensor 4:3 pada model sebelumnya dan menawarkan kemampuan menangkap cahaya lebih banyak. Meski demikian, kualitas akhir tetap bergantung pada rasio yang dipilih karena sebagian area sensor akan terpotong saat merekam dalam format umum seperti 16:9.
Aperture Variabel untuk Kontrol Lebih Luas
Salah satu perubahan besar lainnya adalah hadirnya aperture variabel f/2.0–f/4.0. Berbeda dari generasi sebelumnya yang menggunakan bukaan tetap, sistem baru ini memberi pengguna kontrol lebih presisi terhadap karakter gambar.
Bukaan f/2.0 membantu menghasilkan latar yang lebih lembut dan memberi keunggulan ketika memotret di kondisi minim cahaya. Di sisi lain, f/4.0 menawarkan ketajaman lebih baik pada subjek jarak dekat.
DJI juga memperkenalkan dua aksesori optik baru: Macro Lens, yang memangkas jarak fokus minimum hingga 11 cm, serta FOV Boost Lens yang memperluas sudut pandang hingga 182 derajat.
Performa Video Tetap Andal
Dalam hal perekaman, Osmo Action 6 tetap membawa dukungan 4K 120 fps. Stabilisasi RockSteady 3.0 juga ditingkatkan, dapat digunakan hingga 4K 60 fps untuk memastikan hasil tetap stabil tanpa mengorbankan kualitas.
Fitur perekaman profesional seperti 10-bit LOG D-LOG juga dipertahankan, lengkap dengan tampilan preview warna sebelum merekam. DJI turut menambah kemampuan 2x lossless zoom, mode potret, serta memperluas penyimpanan internal menjadi 50GB.
Peningkatan pada sistem audio juga cukup mencolok dengan kehadiran tiga mikrofon internal yang diklaim mampu merekam suara lebih jernih dan detail.
Untuk saat ini, DJI belum mengumumkan harga global. Namun di pasar China, perangkat ini dipasarkan sekitar CNY 2998 atau setara Rp7 jutaan.
DJI Hadapi Ancaman Larangan Operasional di AS Menjelang Akhir 2025
Di balik peluncuran produk baru, DJI tengah menghadapi situasi yang tidak mudah. Perusahaan teknologi tersebut berada dalam bayang-bayang kemungkinan pelarangan total di Amerika Serikat akibat belum dilaksanakannya audit risiko yang diwajibkan melalui National Defense Authorization Act (NDAA).
Audit yang Tak Kunjung Dimulai
Hampir satu tahun sejak aturan diberlakukan, proses audit masih belum dimulai oleh pemerintah AS. Padahal, hasil penilaian ini akan menjadi dasar apakah DJI masih dapat beroperasi di pasar AS atau justru terkena pelarangan otomatis pada Desember 2025.
Sebelumnya, DJI sempat lega karena Countering CCP Drones Act tidak masuk ke dalam NDAA 2025. Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama karena proses audit tetap menjadi syarat mutlak kelanjutan operasi mereka.
DJI mengaku terbuka terhadap evaluasi tersebut dan optimistis perangkat mereka bisa lolos penilaian. Meski begitu, perusahaan menilai proses yang berlarut-larut dapat berdampak pada keadilan audit, terutama karena waktu semakin menipis.
Kekhawatiran Larangan Otomatis
DJI kembali menyuarakan kekhawatirannya pada pertengahan 2025 ketika mengetahui bahwa sejumlah anggota parlemen mendesak agar audit dipercepat menjadi hanya 30 hari. Menurut DJI, percepatan tersebut justru bisa mengurangi kredibilitas proses peninjauan.
Perusahaan menilai audit yang terburu-buru tidak akan memberikan ruang cukup untuk klarifikasi maupun dialog, sehingga dapat menimbulkan hasil yang bias. Hal ini menjadi krusial mengingat ribuan pelaku industri di AS bergantung pada perangkat DJI.
DJI meminta agar proses penilaian dilakukan secara transparan dan berbasis bukti, bukan semata-mata karena tekanan waktu. Mereka berharap keputusan akhir tidak merugikan pengguna maupun ekosistem industri drone yang telah lama memanfaatkan produk DJI.









