Beranda Game Resident Evil Requiem Hadirkan Horor Lebih Dalam dengan Zombie Semi-Sadar
Game

Resident Evil Requiem Hadirkan Horor Lebih Dalam dengan Zombie Semi-Sadar

Gambar : Mureks

Pelitadigital.com – Waralaba Resident Evil kembali menunjukkan kemampuannya dalam mendefinisikan ulang horor. Lewat judul teranyar Resident Evil Requiem, Capcom tidak sekadar menawarkan visual yang lebih realistis, tetapi juga menghadirkan pendekatan psikologis yang jauh lebih menekan. Salah satu detail yang belakangan ramai dibicarakan adalah kondisi zombie yang tidak sepenuhnya kehilangan kesadaran.

Dalam cuplikan gameplay dan render resmi yang beredar, sejumlah pengamat jeli menemukan fakta mengejutkan: zombie di Resident Evil Requiem tampak memiliki air mata di wajah mereka. Detail ini memicu spekulasi bahwa para mayat hidup tersebut masih merasakan penderitaan, meski tubuh mereka telah rusak oleh infeksi. Bukan sekadar monster tanpa jiwa, mereka terlihat seperti manusia yang terperangkap dalam tubuh yang tak lagi bisa dikendalikan.

Pendekatan ini menjadi pembeda mencolok dibanding seri-seri sebelumnya. Selama ini, zombie di Resident Evil umumnya digambarkan sebagai makhluk agresif yang bergerak berdasarkan naluri atau mutasi biologis semata. Namun di Requiem, teror justru datang dari kesadaran yang tersisa. Para terinfeksi digambarkan membusuk perlahan, tetapi masih memahami apa yang terjadi pada diri mereka, sekaligus dipaksa melakukan tindakan kejam tanpa kehendak bebas.

Konsep ini memang bukan sepenuhnya asing dalam semesta Resident Evil. Resident Evil 7 sempat menyinggung sisi tragis manusia yang terinfeksi jamur, terutama melalui karakter keluarga Baker. Meski begitu, Resident Evil Requiem tampaknya mendorong gagasan tersebut ke tingkat yang lebih ekstrem. Zombie yang menangis dan menunjukkan ekspresi tertekan memperkuat kesan bahwa mereka bukan sekadar musuh, melainkan korban dari bencana biologis yang mengerikan.

Implikasinya terasa kuat dalam pengalaman bermain. Dengan kesadaran yang masih ada, zombie diyakini memiliki kebiasaan atau pola perilaku tertentu yang mencerminkan kehidupan mereka sebelum terinfeksi. Hal ini membuka kemungkinan pendekatan gameplay yang lebih taktis. Pemain tidak hanya dituntut menembak atau menghindar, tetapi juga mengamati, memahami, dan memanfaatkan rutinitas para terinfeksi untuk bertahan hidup.

Bagi karakter seperti Grace dan Leon, situasi ini membawa beban moral tersendiri. Setiap konfrontasi tidak lagi sekadar soal mengalahkan musuh, melainkan juga menghadapi kenyataan bahwa makhluk di hadapan mereka dulunya manusia biasa. Unsur ini berpotensi memperdalam narasi dan membuat keputusan pemain terasa lebih berat secara emosional.

Dari sisi teknis, penggunaan RE Engine kembali menjadi tulang punggung visual Resident Evil Requiem. Detail ekspresi wajah, tekstur kulit yang membusuk, hingga efek pencahayaan realistis membuat nuansa horor terasa lebih dekat dan personal. Demo gameplay yang dipamerkan bahkan menunjukkan bagaimana detail kecil, seperti air mata di wajah zombie, mampu memperkuat atmosfer mencekam secara signifikan.

Dengan pendekatan horor yang lebih manusiawi namun brutal, Resident Evil Requiem berpotensi menjadi salah satu entri paling menyeramkan dalam sejarah seri ini, terutama dari sudut pandang cerita dan lore. Capcom tampaknya tidak hanya ingin menakuti pemain, tetapi juga mengajak mereka merasakan tragedi di balik wabah yang melanda dunia game tersebut.

Detail Game Resident Evil Requiem
Pengembang: Capcom
Penerbit: Capcom
Mesin: RE Engine
Genre: Survival Horor, Aksi, Petualangan
Peringkat ESRB: Mature 17+
Tanggal rilis: 27 Februari 2026

Sebelumnya

Jadwal Rilis Subway Surfers City di iOS Resmi Diumumkan, Ini Bocoran Fitur Barunya

Selanjutnya

LG StanbyME 2 Resmi Hadir di Indonesia, Layar TV Fleksibel yang Menyatu dengan Gaya Hidup Modern

Pelita Digital