Beranda Gadget Gemini Siap Kendalikan Android Tanpa Sentuhan, Google Ubah Cara Interaksi Pengguna
Gadget

Gemini Siap Kendalikan Android Tanpa Sentuhan, Google Ubah Cara Interaksi Pengguna

Gambar : Indozone

Pelitadigital.com – Google semakin mempertegas arah pengembangan Gemini sebagai asisten kecerdasan buatan yang bukan sekadar menjawab pertanyaan, tetapi juga mampu menjalankan berbagai fungsi ponsel Android secara langsung. Melalui riset dan demo terbaru, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat ini menunjukkan bagaimana perintah suara berpotensi menjadi metode utama dalam mengoperasikan perangkat digital.

Dalam visi jangka panjang Google, pengguna tidak lagi harus berpindah aplikasi atau menyentuh layar untuk menyelesaikan tugas. Cukup dengan instruksi lisan, Gemini diharapkan mampu memahami konteks dan mengeksekusi perintah layaknya pengguna manusia.

Project Astra Jadi Fondasi Kendali AI di Android

Pada ajang Google I/O 2025 yang berlangsung Mei lalu, Google memperkenalkan prototipe riset terbaru dari Project Astra. Teknologi ini dirancang agar Gemini dapat mengambil konten dari web, menelusuri Chrome, mencari dan memutar video YouTube, membaca email, hingga melakukan panggilan atau pemesanan atas nama pengguna.

Dalam demo singkat yang diperlihatkan, Gemini mampu menggulir dokumen PDF di Chrome versi Android, membuka aplikasi YouTube, memilih hasil pencarian, dan memutar video tanpa interaksi manual. Seluruh proses dilakukan secara otomatis berdasarkan perintah suara.

Google menyebutkan bahwa kemampuan ini tengah dikembangkan lebih lanjut untuk dihadirkan ke dalam fitur Gemini Live, sehingga dapat digunakan secara lebih luas oleh pengguna Android di masa depan.

Model Computer Use, Langkah Baru AI Meniru Interaksi Manusia

Tidak berhenti di situ, pada Oktober 2025 Google juga merilis Computer Use model versi pratinjau untuk pengembang. Model ini memungkinkan Gemini berinteraksi langsung dengan antarmuka pengguna grafis, seperti menggulir layar, mengklik tombol, hingga mengetik teks, mirip dengan cara manusia menggunakan perangkat.

Saat ini, optimalisasi masih difokuskan pada penggunaan di browser web. Namun Google menilai pendekatan tersebut memiliki potensi besar untuk diterapkan pada antarmuka mobile, termasuk aplikasi Android yang kompleks dan beragam.

Menurut Google, langkah ini penting untuk membangun agen AI yang benar-benar andal. Pasalnya, sebagian besar aktivitas digital masih bergantung pada interaksi visual, bukan hanya berbasis teks atau perintah sederhana.

Pendekatan Google Berbeda dengan Apple

Di tengah persaingan asisten AI, Apple juga memperkenalkan Siri generasi terbaru dengan janji kemampuan lintas aplikasi. Siri diklaim mampu mengedit foto, memindahkan file, hingga menyimpannya ke aplikasi lain hanya lewat suara.

Namun, pendekatan Apple membutuhkan integrasi khusus dari pengembang aplikasi. Sebaliknya, Google memilih jalur yang lebih fleksibel. Gemini dirancang agar dapat bekerja tanpa ketergantungan pada integrasi tambahan, sebuah strategi yang dinilai lebih realistis mengingat luasnya ekosistem Android dengan ribuan perangkat dan aplikasi.

Pendekatan ini memungkinkan Gemini beradaptasi dengan aplikasi yang bahkan belum pernah dikenali sebelumnya, selama antarmuka dapat dipahami secara visual oleh sistem AI.

Evolusi Kendali Suara yang Lebih Natural

Sebenarnya, Google bukan pemain baru dalam teknologi kendali suara. Pada 2019, Google Assistant generasi baru sempat diperkenalkan dengan pemrosesan suara langsung di perangkat. Saat itu, Google mengklaim navigasi berbasis suara lebih cepat dibanding sentuhan.

Namun, teknologi tersebut belum mendapat adopsi luas dan hanya tersedia secara terbatas di lini Pixel. Kini, kehadiran large language model atau LLM menjadi pembeda utama. AI generatif memungkinkan perintah diberikan secara lebih natural, kontekstual, dan fleksibel.

Pengguna tidak lagi harus menghafal perintah kaku. Gemini dapat memahami maksud, menyesuaikan langkah, dan menyelesaikan tugas meski menghadapi tampilan atau aplikasi yang berbeda-beda.

Masa Depan Interaksi Digital Tanpa Layar?

Meski potensinya besar, adopsi massal kendali suara diperkirakan masih bertahap. Dalam waktu dekat, penggunaan hands free kemungkinan lebih banyak diterapkan pada skenario tertentu, seperti saat berkendara atau menggunakan perangkat sekunder.

Dampak terbesarnya justru diprediksi akan dirasakan oleh perangkat seperti smartwatch dan smart glasses. Alih-alih menjalankan aplikasi berat, perangkat tersebut dapat memanfaatkan ponsel sebagai pusat kendali, sementara informasi disampaikan melalui suara atau tampilan minimal.

Pertanyaan besarnya kini adalah apakah kendali suara suatu hari nanti benar-benar mampu menggantikan sentuhan layar sebagai metode utama interaksi, tidak hanya di ponsel, tetapi juga pada laptop dan perangkat komputasi lainnya. Dengan langkah agresif Google melalui Gemini, arah perubahan tersebut tampaknya semakin nyata.

Sebelumnya

55 Ucapan Selamat Tahun Baru 2026 Bahasa Arab dan Artinya

Selanjutnya

Rekomendasi iPhone Jadul yang Masih Layak Dibeli pada 2026

Pelita Digital