Kecerdasan Buatan

ByteDance Kembangkan Model AI 10 Triliun Parameter, Berpotensi Jadi yang Terbesar dari China

Sumber Gambar : Kompas

Pelitadigital.com – Persaingan pengembangan kecerdasan buatan (AI) semakin mengarah pada pembangunan model dengan skala parameter yang jauh lebih besar. ByteDance, perusahaan induk TikTok, dilaporkan sedang mengembangkan model AI yang diproyeksikan memiliki hingga 10 triliun parameter.

Jika pengembangan tersebut berhasil mencapai skala yang direncanakan, model ini akan menjadi salah satu proyek AI terbesar yang pernah dikembangkan perusahaan asal China. Skala tersebut juga menempatkan ByteDance dalam persaingan dengan perusahaan AI terkemuka global yang tengah mengembangkan model berparameter triliunan.

Model AI ByteDance Masih dalam Tahap Pre-Training

Model AI terbaru ByteDance saat ini disebut masih berada dalam tahap pre-training. Pada fase ini, model menjalani proses pembelajaran menggunakan data dalam jumlah besar sebelum masuk ke tahap penyempurnaan dan pengujian.

ByteDance belum memberikan informasi mengenai arsitektur yang digunakan maupun jumlah parameter yang nantinya benar-benar aktif ketika model menjalankan tugas. Karena itu, angka 10 triliun parameter masih lebih tepat dipahami sebagai skala pengembangan yang sedang ditargetkan.

Jumlah tersebut tergolong sangat besar jika dibandingkan dengan sejumlah model AI China yang sudah tersedia. Kimi K3 dari Moonshot AI disebut memiliki sekitar 2,8 triliun parameter, sedangkan DeepSeek V4-Pro berada di kisaran 1,6 triliun parameter.

Perbedaan skala tersebut menunjukkan ambisi ByteDance untuk membangun model dengan kapasitas yang jauh lebih besar.

Parameter Besar Tidak Selalu Berarti Model Lebih Canggih

Besarnya jumlah parameter sering kali digunakan untuk menggambarkan skala sebuah model AI. Namun, angka tersebut tidak otomatis menunjukkan seberapa pintar atau efektif model ketika digunakan.

Model AI dengan parameter sangat besar umumnya memanfaatkan arsitektur Mixture of Experts atau MoE. Pendekatan ini memungkinkan sebuah model menyimpan parameter dalam jumlah besar, tetapi hanya mengaktifkan bagian tertentu ketika menerima sebuah permintaan.

Dengan mekanisme tersebut, model tidak harus menjalankan seluruh parameter pada setiap proses. Penggunaan sebagian parameter dapat membantu mengurangi beban komputasi dibandingkan jika keseluruhan parameter harus aktif secara bersamaan.

Sebagai gambaran, DeepSeek V4-Pro disebut memiliki 1,6 triliun parameter secara keseluruhan, tetapi hanya sekitar 49 miliar parameter yang aktif ketika melakukan inference. Jumlah tersebut hanya sekitar 3 persen dari total parameter yang tersedia.

Kondisi serupa bisa saja diterapkan pada model ByteDance. Karena itu, kemampuan sebenarnya dari model dengan kapasitas hingga 10 triliun parameter nantinya akan sangat dipengaruhi oleh rancangan arsitektur dan jumlah parameter yang aktif saat digunakan.

Pengembangan Bisa Berlangsung Berbulan-bulan

Membangun model AI dengan skala triliunan parameter membutuhkan infrastruktur komputasi yang sangat besar. Selain perangkat keras, proses tersebut juga memerlukan pasokan data, sistem penyimpanan, jaringan, serta sumber daya manusia dalam jumlah besar.

Tahap pre-training model ByteDance diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga hingga enam bulan. Setelah proses tersebut selesai, pengembangan masih harus melewati sejumlah tahapan lain, termasuk penyempurnaan model, evaluasi keamanan, dan persiapan sebelum digunakan secara luas.

Dengan perkiraan tersebut, model AI baru ByteDance berpotensi baru tersedia paling cepat pada awal 2027. Perkiraan itu tentunya bergantung pada kelancaran proses pengembangan dan tidak adanya kendala teknis maupun operasional yang signifikan.

Seed Menjadi Motor Pengembangan AI ByteDance

Proyek tersebut dikembangkan oleh Seed, divisi AI milik ByteDance. Tim ini dipimpin Wu Yonghui, mantan eksekutif Google yang bergabung dengan ByteDance pada Februari 2025.

Seed dilaporkan memiliki sekitar 2.000 peneliti yang bekerja dalam berbagai bidang pengembangan AI. Fokusnya mencakup pembangunan model dasar, reinforcement learning, hingga teknologi multimodal.

Kehadiran tim dalam skala besar memberikan ByteDance sumber daya yang cukup untuk mengembangkan model AI generasi baru. Pengalaman dari berbagai bidang juga dapat membantu perusahaan mengembangkan model yang tidak hanya unggul dalam pemrosesan teks, tetapi juga mampu menangani beragam jenis informasi.

Doubao Bisa Menjadi Jalur Distribusi Utama

Ambisi ByteDance tidak hanya terlihat dari ukuran model yang sedang dikembangkan. Perusahaan juga mempunyai keuntungan dari sisi distribusi karena telah memiliki ekosistem AI yang digunakan dalam skala besar.

ByteDance sebelumnya memperkenalkan Doubao Seed 2.0 pada Februari 2026 dalam beberapa varian. Produk tersebut menjadi salah satu bagian penting dari strategi perusahaan di sektor kecerdasan buatan.

Asisten AI Doubao juga dilaporkan memiliki sekitar 336 juta pengguna aktif bulanan pada April 2026. Basis pengguna sebesar itu dapat menjadi faktor penting apabila model baru nantinya digunakan untuk meningkatkan kemampuan Doubao.

Artinya, keberhasilan ByteDance tidak hanya akan diukur dari kemampuan teknis model. Kemampuan perusahaan mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam produk yang sudah mempunyai basis pengguna besar juga berpotensi mempercepat adopsi AI.

ByteDance Mulai Membidik Persaingan AI Global

Pengembangan model hingga 10 triliun parameter memperlihatkan bahwa persaingan AI tidak lagi hanya berkutat pada siapa yang memiliki teknologi terbaru. Skala komputasi, arsitektur model, kemampuan optimasi, serta distribusi produk menjadi bagian penting dalam menentukan posisi sebuah perusahaan.

ByteDance kini memiliki kombinasi antara tim penelitian yang besar, pengalaman membangun produk digital berskala global, serta basis pengguna AI yang luas. Jika model baru tersebut berhasil dikembangkan sesuai target dan mampu memberikan peningkatan kemampuan yang signifikan, perusahaan berpotensi memperkuat posisinya dalam persaingan AI global.

Namun, jumlah parameter tetap bukan satu-satunya indikator yang menentukan kualitas sebuah model. Kemampuan memahami konteks, akurasi jawaban, efisiensi komputasi, keamanan, kemampuan multimodal, serta pengalaman pengguna akan menjadi faktor penting ketika teknologi tersebut akhirnya tersedia.

Karena masih berada dalam tahap pengembangan, kemampuan final model AI ByteDance belum dapat dipastikan. Perkembangan proyek ini baru akan terlihat lebih jelas setelah perusahaan mengungkap arsitektur, jumlah parameter aktif, performa, dan produk yang akan menggunakan teknologi tersebut.

 

Sebelumnya

12 Karakter yang Pernah Menyelamatkan Luffy dari Kematian di One Piece

Selanjutnya

Memilih Peralatan Teknik untuk Mendukung Maintenance Flow Meter di Industri

Pelita Digital