Pelitadigital.com – Thrifting impor mengacu pada mengimpor barang bekas dari negara lain untuk dijual di dalam negeri. Harga yang murah dan berasal dari brand ternama menjadi alasan mengapa pakaian bekas impor laris manis di pasaran. Sayangnya, kehadiran thrifting impor justru merugikan berbagai pihak, terutama bagi para pengusaha UMKM dan industri tekstil lokal di Indonesia.

Pemerintah sangat serius dalam memberantas thrifting impor di Indonesia. Tak main-main, bahkan Pemerintah sampai mengeluarkan peraturan yang melarang impor pakaian bekas ke dalam negeri. Hal ini tertuang dalam Undang-Undang (UU) Nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan.

“Setiap importir yang mengimpor barang dalam keadaan tidak baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah),” bunyi Pasal 111 UU 7/2014.

 

Banyak pihak yang turut menyoroti kemunculan thrifting impor, salah satunya adalah Multibagger Investor dan Youtuber, Bennix. Dalam kanal Youtube pribadinya, Bennix mengatakan bahwa thrifting impor dapat menghancurkan ekonomi negara. Tak asal bicara, Bennix menyampaikan fakta tersebut berdasarkan data dalam Jurnal Ekonomi Dunia.

 

“Sudah ada hasil riset di jurnal ekonomi dunia, yang bikin namanya Garth Frazer. Dia sudah meneliti dan menilai bagaimana industri pakaian bekas, dan bisnis-bisnis yang terkait dengan pakaian bekas, termasuk donasi pakaian bekas ke banyak negara-negara di Afrika, ternyata menghancurkan perekonomian negara itu.” ujar Bennix.

 

“Jadi sudah terbukti di tahun 1980 sampai tahun 2000, sudah di riset program bantuan seperti donasi pakaian bekas ke Afrika menghancurkan 40% produksi dalam negeri mereka menjadi berkurang. Dan yang lebih sadis terjadi 50% pengurangan serapan tenaga kerja yang ada disana, walau sudah lama dicegah, efeknya masih terjadi sampai sekarang” imbuhnya.

 

Hasil riset yang dilakukan oleh Garth Frazer diatas menunjukkan bahwa industri pakaian bekas, dan bisnis sejenisnya terbukti menghancurkan ekonomi banyak negara-negara di Afrika. Dalam kurun waktu 20 tahun, industri thrifting impor telah menghancurkan lebih dari 40% produksi dalam negeri dan menurunkan lebih dari 50% tenaga kerja di negaranya.

Baca Juga :   Memahami Financial Fair Play: Perjalanan, Kontroversi, dan Dampaknya pada Klub Sepak Bola

 

Banyak Bisnis Lokal Hancur Karena Ulah Thrifting Impor

 

Apa yang disampaikan oleh Bennix di kanal Youtube pribadinya ternyata sangat relevan dengan apa yang dialami oleh masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari beberapa warganet yang meninggalkan komentar di kolom komentar konten tentang thrifting yang Bennix upload di Youtubenya maupun di komentar bahasan thrifting youtuber lainnya, bahkan ada juga yang mengalami bisnis hancur karena thrifting impor.

 

1.Bisnis UMKM Kalah dengan Thrifting Impor

 

 

Pemilik akun @rachdaadilla1201 dengan gamblang menjelaskan tentang bisnis UMKM lokal yang kalah saing dengan thrifting impor. Banyak pengusaha pakaian lokal yang akhirnya gulung tikar akibat munculnya thrifting impor. Selain menurunkan pendapatan, thrifting impor juga menyebabkan banyak karyawan di PHK.

 

2.Industri Pakaian Hancur Lebur

 

Tak bisa dipungkiri, thrifting impor telah menghancurkan industri pakaian dalam negeri. Hal inilah yang juga dirasakan oleh pemilik akun @topone88officialshop43. Bisnis pakaian yang dia miliki kini sudah tidak seramai dulu, termasuk saat menjelang lebaran.

 

3.Permintaan Menurun

 

Selanjutnya, ada pemilik akun @firmanhamdani1455 yang mengatakan bahwa bisnis industri batik sedang mengalami penurunan, terutama di tahun 2023 ini. Dia mengatakan bahwa banyak tempat-tempat industri yang skalanya masih kecil mengalami kesulitan karena tidak memiliki job atau menurunnya permintaan.

 

4.Banyak Bisnis Bangkrut

 

Pemilik akun @arintasavitri7600 juga menyampaikan keluh kesalnya, dimana bisnisnya terdampak oleh keberadaan thrifting impor di daerahnya. Banyak bisnis dari perusahaan maupun garmen lokal yang terpaksa tutup karena sepi peminat.

 

5.Lapangan Pekerjaan Menurun

 

Bisnis thrifting hadir dalam berbagai jenis pakaian bekas, mulai dari pakaian biasa hingga pakaian formal. Inilah yang dirasakan oleh pemilik akun @CREATIVETAILOR yang ikut terdampak oleh adanya thrifting. Akibatnya, dia memilih pindah ke model baju lain yang tidak mungkin ada thriftingnya.

 

6.Penjualan Bahan Pakaian Menurun

Dampak thrifting turut dirasakan oleh pemilik akun @agustom294, seorang pedagang kain tekstil meteran. Sejak munculnya thrifting online, bisnisnya menurun drastis. Disamping itu, daya beli masyarakat juga ikut menurun, akibat “buat apa repot2 inovasi menciptakan produk yg harganya jauh lebih mahal daripada BEKAS IMPORT”

Baca Juga :   Mengenal Definisi Saham dalam Pasar Keuangan

 

Selain yang disebutkan diatas, tentunya masih banyak komentar-komentar warganet yang setuju dengan pernyataan Bennix. Setidaknya beberapa informasi singkat tersebut sudah dapat menunjukkan tentang betapa buruknya dampak thrifting impor di Indonesia.

 

Dampak Buruk Thrifting Impor Bagi Bisnis Tekstil Lokal dan UMKM

 

Thrifting impor sangat berdampak negatif pada bisnis tekstil lokal dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) karena beberapa alasan berikut:

 

1.Mengganggu Industri Lokal

 

Dengan adanya impor barang bekas yang murah, banyak konsumen akan beralih dari membeli produk lokal baru menjadi barang bekas impor. Ini dapat merugikan industri lokal dan menyebabkan berkurangnya permintaan atas produk-produk dalam negeri, sehingga berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi.

 

2.Hilangnya Lapangan Kerja

 

Industri manufaktur dan produksi barang baru di negara akan mengalami penurunan permintaan jika banyak konsumen beralih ke thrifting impor. Ini dapat menyebabkan penutupan usaha dan pemangkasan tenaga kerja, yang berarti hilangnya lapangan kerja bagi masyarakat, tidak main-main tenaga kerja yang hilang adalah para tenaga kerja ahli, di bidang padat karya, seperti ahli pola, ahli obras, ahli desain, ahli bordir, ahli mesin, teknisi, dan sebagainya.

 

3.Menghambat Pertumbuhan Ekonomi

 

Jika thrifting impor merusak industri lokal yang seharusnya menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi, maka pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dapat terhambat. Ini dapat menyebabkan stagnasi atau bahkan resesi ekonomi.

 

4.Persaingan yang Tidak Seimbang

 

UMKM dan bisnis tekstil lokal cenderung tidak dapat bersaing dengan harga produk impor yang murah, apalagi barang Thrifting itu masuk secara ilegal sebagai sampah yang seharusnya dicacah dan di daur ulang hasil buangan kota maju, tanpa pajak, tanpa cukai, tanpa higienitas, bahkan tanpa harga dasar. Perbedaan harga yang cukup signifikan membuat produk lokal sulit untuk bersaing dalam pasar, terutama jika kualitas dan desain produk impor juga dianggap memadai.

 

5.Meningkatkan Angka Pengangguran

 

Karena permintaan akan produk lokal menurun, maka produsen lokal cenderung mengalami penurunan produksi. Ini dapat berdampak buruk pada pekerja dan industri di sekitarnya, karena perusahaan mungkin harus melakukan pemutusan hubungan kerja atau mengurangi skala produksi mereka. Dengan menurunnya permintaan dan produksi produk lokal, banyak perusahaan yang mengurangi tenaga kerja mereka, sehingga meningkatkan angka pengangguran di daerah tersebut.

 

Solusi Beli Baju Branded Murah, Tapi Bukan Thrifting

 Solusi Beli Baju Branded Murah, Tapi Bukan Thrifting

 

Baca Juga :   Mengenal Jenis-jenis Investasi yang Menguntungkan

Kebanyakan baju branded dijual dengan harga yang cukup mahal. Oleh sebab itu, banyak orang memilih membeli baju thrifting agar bisa mendapatkan baju branded yang diinginkan dengan harga yang lebih murah. Padahal ada jalan lain yang bisa dilakukan untuk mendapatkan baju branded dengan harga terjangkau tanpa harus thrifting. Yups, solusinya adalah beli baju sisa ekspor.

 

Menurut Bennix, membeli baju sisa ekspor lebih bermanfaat. Membeli baju sisa ekspor merupakan solusi bagi kamu yang ingin memiliki pakaian branded, tapi dengan harga yang tidak terlalu murah. Selain harganya murah, pakaian sisa ekspor juga masih baru, sehingga lebih nyaman dipakai dan masih terlihat bagus.

 

“Beli barang sisa ekspor itu jauh lebih bermanfaat, Kenapa? karena pabriknya di Indonesia. Kamu tahu pabrik UNIQLO di mana? Ada di Indonesia, Bro!. Kamu tau pabrik Adidas di mana? Ada di Indonesia. Pabrik H&M ada di mana? Ada di Indonesia. Belilah barang sisa ekspor. Ya mungkin barangnya cacat-cacat dikit segala macam, mungkin benangnya ada keluar, tapi ketika kamu beli itu harganya udah pasti lebih murah.” ujar Bennix.

 

“Jadi kamu bisa menyalurkan hasrat trifting diskon mu itu. Pada saat yang sama, kamu juga bisa tetap dapat brandnya. Jadi kamu dapat dua-duanya, tapi yang paling penting kamu menjadi pahlawan dengan membeli barang produksi lokal itu. Walaupun dia bekas, walaupun dia barang sisa ekspor, itu sama-sama menghemat duit, dan sama-sama mendukung serapan tenaga kerja, mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan industri tekstil yang ada di Indonesia.” ujar Bennix.

 

Kamu bisa membeli berbagai pakaian sisa ekspor di @BrandedByVita di Tiktok dan Warnamu.com di Shopee. Toko ini menjual banyak sekali model baju sisa ekspor dengan harga yang sangat terjangkau dari brand brand terkenal, serta produk-produk pilihan, sehingga cocok bagi kamu yang ingin memiliki barang branded, tanpa harus mengeluarkan budget besar.

 

Yuk, follow @BrandedByVita di Tiktok dan Warnamu.com di Shopee agar bisa mendapatkan pakain branded ternama dengan harga yang ramah di kantong, dan di toko yang penulis rekomendasikan ini, dia TIDAK MENJUAL barang PALSU, CMT, ataupun KW lho; Bahkan untuk yang “Reject” juga akan tertulis REJECT tanpa ditutup-tutupi dan bahkan harganya jauh lebih miring lagi, jadi kita merasa jauh lebih aman nyaman, dan bisa dipercaya.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *