Kendaraan listrik di Indonesia digadang-gadang akan menjadi alat transportasi masa depan yang ramah lingkungan. Alat transportasi di masa depan ini tentunya harus jadi pilihan masyarakat agar udara kota tetap bersih dan juga ramah lingkungan. Pemerintah sendiri juga mendorong masyarakat untuk mengkonversi kendaraan berbasis BBM (Bahan Bakar Minyak) ke kendaraan listrik.

Tetapi, apakah kekurangan kendaraan listrik sama sekali tidak ada? Tentu saja ada kekurangannya, bahkan beberapa peneliti masih menemukan sejumlah kendala dalam mengembangkan kendaraan Listrik. Berikut adalah Kekurangan dari kendaraan listrik di Indonesia:

Bahan Baku Baterai yang Langka

Untuk kendaraan mobil listrik sendiri  memerlukan baterai yang banyak kandungan lithium, atau sebuah logam paling ringan sebagai bahan baku utama mobil Listrik.

Pasokan lithium lain bahkan bisa didatangkan dari negara Argentina dan Cina. Sementara untuk Negara Bolivia sendiri memiliki cadangan terbesar yang diketahui di dunia. Baru-baru ini sebuah penelitian menyebutkan, bahwa lumpur Lapindo di Indonesia juga mengandung lithium yang bisa digunakan untuk pembuatan baterai mobil listrik.

Membuat Mobil Listrik Justru Menciptakan Banyak Emisi

Dengan terciptanya kendaraan mobil listrik yang ramah lingkungan di Indonesia justru akan mendatangkan lebih banyak emisi. Karena, untuk komponen bahan baku pembuatan mobil listrik saja sebagian besar berasal dari bahan tambang, tentu saja aktivitas yang selama ini dianggap paling merusak lingkungan bagi masyarakat.

Bahan baku kendaraan mobil listrik pun harus dimurnikan dulu sebelum dapat digunakan, bahkan bisa mengeluarkan lebih banyak gas rumah kaca. Efek yang sama juga terjadi saat membuat mobil berbahan bakar bensin atau diesel. Pembuatan satu unit mobil saja dapat melepaskan sekitar sepuluh ton CO2.

Listrik Masih Diciptakan dari Energi Kotor

Rencana Pemerintah Indonesia untuk menciptakan mobil listrik yang ramah lingkungan, sebenarnya juga ditentukan dari bagaimana kendaraan ini memperoleh listrik sebagai bahan baku utama mobil. Beberapa negara masih bergantung pada batu bara dan sumber energi kotor lain untuk menjadi sumber pembangkit listrik mereka.

Pembangkit listrik tenaga batu bara memancarkan 800-850 gram CO2 per kWh, sementara untuk pembangkit listrik berbahan bakar gas yang lebih bersih memancarkan 350-400g CO2 per kWh.  Dengan menggunakan energi terbaru, seperti panel surya atau turbin angin, bisa memancarkan sekitar 36g CO2 per kWh, tentunya dengan mempertimbangkan emisi yang dihasilkan selama proses pembuatannya.

Harga Kendaraan Listrik Lebih Mahal

Salah satu contoh kendaraan listrik adalah mobil listrik. Meskipun untuk pengisian bahan bakar kendaraan listrik cenderung lebih murah. Biaya perawatan mobil listrik pun juga cenderung lebih murah. Karena, hanya ada sedikit beberapa bagian yang bergerak dan tidak ada filter atau oli untuk diganti.  Bagian paling mahal dari mobil listrik ini pun terletak pada bahan baku utama yaitu baterainya, berbeda dengan kendaraan berbahan bakar minyak atau bensin yang berbahan baku lebih murah.

Untuk saat ini, kendaraan mobil listrik hanya bisa menempuh perjalanan rata-rata sekitar seratus mil atau 150 km untuk sekali pengisian daya baterainya.

Perlu juga kita cermati sebelum membeli mobil listrik adalah dengan mempertimbangkan jumlah stasiun pengisian daya baterai yang lebih merata. Di samping itu, kecepatan mobil listrik masih di bawah mobil dengan bahan bakar bensin ataupun solar.

Itulah tadi ulasan dari beberapa kekurangan kendaraan listrik di Indonesia. Anda dapat mempertimbangkan terlebih dahulu sebelum membelinya.

Baca Juga :

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *